Sabtu, 13 Agustus 2011

Turning Point's first entry! The unlikely Messiah 1

The Unlikely Messiah
1 Januari 2019, 12.00, waktu setempat
4.5 Km dari FOB Logar, Afghanistan

                 
                Pukul 12 tepat di siang hari dan Matahari masih pelit memancarkan sinarnya selagi awan hitam menumpahkan rintik – rintik air ke kepala Antonio. Hujan menjadi tidak menentu, di musim kemarau, tidak aneh jika terjadi hujan badai yang begitu besar. Lelaki paruh baya tersebut menorah ke atas, dengan kacamata balistik-nya, awan begitu gelap membuat semuanya terlihat seperti jam 5 sore, dan tim-nya masih harus bertahan disana setidaknya sampai hujan reda.
               
Antonio Macvickers dan fire-team-nya telah berada di Afghanistan sejak 6 bulan yang lalu, dan cuaca sudah seperti ini dari sebelum mereka menginjakkan kaki di tanah Afghan yang panas. Dikirim sebagai pengisi sebuah skuadron Delta tidak memberikan mereka banyak aksi, dan disinilah mereka, mencoba membetulkan sebuah mobil sedan sipil yang mengeluarkan asap hitam pekat selama beberapa menit.

“Tony, cobalah kesini, kau tahu banyak hal tentang mobil kan?” Seru Francis Alcatraz, Rifleman dan pemimpin fire-team.

“Al, dengar, dua jam yang lalu kau mengeluh tentang caraku mengemudi dan kita bertukar tempat, sebelumnya aku sudah berkendara selama 5 jam dan tidak terjadi apa – apa. Dan 30 menit yang lalu kau menyalahkanku, mengatakan radiatornya kepansan sementara kau juga yang menyuruhku berputar – putar di Fallujah selama 3 jam. Dan baru sekarang kau minta bantuan?” Balas Antonio sambil mengambil kunci inggris di sampingnya dan berjalan menuju mobil.

“Aku tidak bisa berkata apa – apa.” Tutur salah satu anggota tim, G. Hong Rei Ji.

“Ji, aku memang tidak meminta.” Balas Al sambil memperhatikan Antonio mengerjakan mobilnya. “Dimana Troy?”

“Membersihkan senapan di belakang, jika dia tahu satu hal tentang mesin, aku akan terkejut jika itu bukan tentang senjata” Jawab G sambil memperhatikan tangan Antonio berputar – putar mengencangkan sesuatu.

“Sungguh? Bagaimana denganmu?” Tany Antonio dengan nada sarkas.

“Bahkan tidak bisa membetulkan sepeda.” Jawab Al, sambil menepuk kepala G.

“Hey!”

Hujan yang tidak tahu ampun masih membasahi jas – jas hujan mereka. Jarak pandang begitu terbatas, mereka hanya bisa melihat sekitar 15 – 30 meter ke depan. Tanah begitu becek dan lembek, Al nyaris terpeleset di belakang mobil. Antonio masih asik mengerjakan mesinnya, G memperhatikan dengan antusias, dan Troy dengan senjata – senjatanya.

Dari balik lensa, sesosok manusia dengan jas coklat memperhatikan mereka dengan laras L96A3 bergeser ke kiri dan ke kanan dengan seksama mengawasi tiap gerak – gerik orang – orang tersebut. Troy menghela nafas dan iseng menengok keluar, dan secara tidak sengaja melihat pantulan cahaya dari scope senapan tersebut. 

“AL! AL!” Seru Troy sambil memukul – mukul jendela mobil yang disandari Alcatraz. Alcatraz menengok ke arah Troy dan melihat Troy menunjuk – nunjuk puncak bukit 50 meter dari mereka. Al melihat kilatan cahaya yang dimaksud Troy, tersentak dan refleks berjongkok.

“Kenapa Al?” Tanya G, yang entah kenapa belum bosan bersandar melihat Antonio.

“Tidak apa – apa, bejalanlah ke kap mobil.” Balas Al sambil berdiri dan berjalan ke arah Antonio, mencoba untuk bergerak normal.

“Ada apa?” Tanya Antonio. Al langsung merangkul Antonio dan G di depan mobil, kap yang terbuka menghalangi si penembak.

“Begini, apa yang akan kau lakukan ketika mengetahui kalau ada seseorang mengarahkan mocong senapannya ke kepalamu 50 meter dari tempatmu berdiri?”