"Tell Bridge 7 to standby, we're on our way to extract End War from hazardous Gemscool Forum to this blog over." CH-53E Sea Knight operator, Left 4 Dead 2.
End war - The prologue
"Ghillie awas! Berlindung dekat mobil itu!" Seru ayah Gilbert seraya menyeret anak satu - satunya itu. "Tapi ayah! Ayah bagaimana?" Ghillie melihat siluet ayahnya menutup pintu mobil tersebut. Sementara ayahnya, Korova, Terjebak di-antara baku tembak antara Free rebels dan CT-Force. di tengah desingan peluru yang sungguh menyesakkan udara, Ghillie tertidur
*Brak Brak* Ghille mencoba untuk mendobrak pintu truk yang mengurungnya semalam, hari sudah pagi, dan baku tembak telah berakhir. *Krak, Krak, BRAK!* "Haaah, haaah" dengus Ghillie kecil setelah berhasil membuka pintu truk tersebut. Ghillie menyeret diri keluar dan melompat keluar sembari menemukan puluhan mayat bergelimpangan.
"Ayah! Ayah dimana?" Ghillie berteriak, suaranya terlalu kecil untuk terdengar sampai ke bagian lain kota, dia terjebak di daerah eastern road. "Ayah? Ibu? kalian dimana?" di tengah ribuan kelongsong peluru dan darah, seseorang mengangkat tangan meminta pertolongan. tangannya penuh darah dan keadaannya mengenaskan
"Siapa disana!" seru Ghillie sembari berlari ke arah orang yang malambaikan tangan tersebut.
"Ghillie, itu kau?" seru orang tersebut dengan suara parau.
"Ayah! Ayah kenapa? mana ibu!?" teriak Ghillie sambil berlari ke arah ayahnya.
"Ayah tidak tahu nak, ibumu mungkin sudah dievakuasi lebih dahulu, UHUK!" ayahnya memuntahkan banyak sekali darah
"Ayah! ayo ayah jangan mati dulu!"
"Uhuk, yah Ghillie, maafkan ayah, tapi semua orang pasti mati, tolong cari ibumu, ibumu menitipkan pesan untukmu tapi tidak pernah bisa sampai dan... dan..."
"Dan apa? ayo ayah, jangan mati!"
"Dia memin... minta kau untuk... mem... mem..." tangan ayahnya lemas sembari menghembuskan napas berat, tubuhnya menjadi dingin dan dia menjatuhkan G36C yang berada di tangannya
"Ayah? ayah tolong jangan begini, Ayah! Tolong jangan mati dulu! Ayah!" Ghillie berteriak kencang setelah tahu kalau ayahnya benar - benar tewas di tengah baku tembak, tewas sebagai CT-force dengan terhormat.
Di Pisau ayahnya terukir tulisan "Fortune favors the brave" sembari mengambil, pisau tersebut, Ghillie bersumpah "Aku... Aku... aku berjanji akan mengakhiri perang ini, aku berjanji akan membunuh siapapun pembunuh ayah! aku berjanji akan mencari ibu, Aku, AKULAH YANG AKAN MENGAKHIRI PERANG INI!"
Chapter 1: Rookie of mine
20 tahun telah berlalu setelah kejadian di daerah eastern road. Aku mendaftarkan diri kedalam akademi kepolisian, berharap mendapat kesempatan untuk melawan para pemberontak. Aku berhasil lulus dengan nilai yang cukup bagus dalam bidang infiltrasi dan penjinakan bom."Kepada Gilbert Cauldron dari resimen 22, Batalion 2, Task force 445. Diharap segera menghadap pemimpin batalion 2" Speaker yang berada di ruang ganti bergema seperti biasa, memang agak rusak.
"Hei gil, gil? Ghillie! Hei!" Teriak sesorang di sebelahku, badannya kekar, bermata sipit, dan bersuara berat.
"Ah! ya, ya? kenapa?" Aku sadar dari lamunanku tentang ayahku.
"Tidak dengar ya?" tanya orang itu, suaranya merendah.
"Ah ya! tentu! apaan sih tadi?" aku sulit fokus ketika sedang melamun.
"Halo? Speaker, Disebelah tempat kau duduk, baru berbunyi menyuruhmu menghadap Letnan 2, Kau ini sudah beli korek kuping lagi belum?" tanyanya dengan muka aneh, orang ini memang hebat dalam membuat muka jelek, bakat yang tidak berguna memang.
"Ah, maaf, aku sedang melamun, lagipula untuk apa Graffat memanggilku?"
"Entahlah tapi speakernya bilang yang dipanggil adalah Gilbert Cauldron"
"Speaker tidak bisa bicara" tambahku sambil melengos keluar dari ruang ganti, berbelok ke arah sayap kiri ke ruangan tempat Manajemen batalion berada. Orang yang tadi berbicara denganku adalah Hatoyama Kirei, Temanku yang satu kelas sewaktu berada di akademi.
Aku memasuki ruangan Letnan kolonel tersebut, ruangannya dingin dan dipenuhi cacatan Komendasi di dindingnya, ada jam bergaya 'Gothic' yang ditempel diantara Lambang akademi polisi dan lambang CT.
"Gilbert 'Ghillie' Cauldron?" tanya sang Letkol
"I-Iya pak itu saya!, Siap menerima perintah!" jawabku dengan tegas, memberikan hormat kepadanya.
"Duduklah nak, aku memanggilmu bukan untuk membunuhmu kok"
"Siap pak!" Aku selalu grogi dan kaku ketika bertemu atasan dengan berbagai komendasi, terutama yang duduk di kantor yang nyaman seperti ini.
Dia mengambil kacamata dan melihat arsip biru seorang personel, itu arsipku. aku tidak bisa bergerak, takut akan catatan merah di arsipku, atau yang lebih buruk lagi, catatan kosong hasil ujian akademi, jujur saja, soal bidang akademik saat di akademi, nilaiku dibawah 5 semua, hanya bahasa inggris yang mendapat nilai 9 keatas. Aku curiga kualifikasi untuk polisi militer sekarang hanyalah bisa berbahasa inggris karena untuk ukuran polisi, aku ini idiot.
"Dengar nak, aku melihat beberapa arsip tentang bagaimana kau masuk ke dalam akademi ini, dan, yah kulihat kau punya kemampuan lebih dalam bidang bergerak cepat, infiltrasi dan menjinakkan bom, kualifikasi seorang CT menurutku"
Aku tegang dan badanku tiba tiba tegap, karena posisi kursi yang terlalu dekat dengan meja, kemaluanku tidak sengaja mementok meja, aku bergidik nyeri.
"A... U... iya pak, U~ saya memang terbiasa dikejar ***** sewaktu berada di camp, A~ U~ anu, saya juga sering digigit sampai celana saya robek, mungkin saya bisa berlari cepat karena itu, U~"
Aku bergidik nyeri, aku merasa ingin buang air besar, semoga aku masih punya harapan dalam membuat anak.
"Kau tidak apa - apa nak?"
"Iya, perut saya hanya tidak kuat ketika memakan terlalu banyak cabe, ehehe U~" sambil memegangi perut, tangan kiri memegangi testikel.
"Yah, terserah aku hanya merekomendasikanmu untuk bergabung bersama para CT dari resimen 75, Hunter 2-1 unit, kau akan menjadi anggota CT-Force" Katanya sambil menyodorkan kertas yang sudah ia tanda tangani.
Sakitku semakin menjadi - jadi, jantungku berdebar, mataku mulai berair bersemangat akan kesempatanku membalaskan dendam ayahku dan mencari ibu.
Tu-tunggu pak? Aku? Apa bapak tidak salah? Aku merasa ingin meledak mendengar kalimat tadi.
Kenapa aku harus membohongimu? Kau berhasil menyelesaikan tes meloloskan diri tanpa ketahuan dan dengan catatan waktu terbaik, tanpa menyentuh satu orang penjaga ataupun meninggalkan sebuah sidik jari, kau dapat menjinakkan bom dalam waktu kurang dari 20 detik, tidak, bahkan kurang dari 10 detik, kau sudah terbiasa dengan berbagai macam senjata juga bisa berlari sprint tanpa henti selama 5 menit. Dengan kualifikasi seperti itu kau tidak jauh berbeda dengan para CT, aku ingin personel yang bisa bertempur, bukan hanya berbicara
"Be-benar pak? Aku? CT-Force? BENAR!? Yes! Terima kasih pak! Yihaa! Akhirnya! Itu kertas pendaftaran dan sertifikat kan pak!? Yes! Terima kasih pak!" Aku merebut kertas tersebut dari tangan Letkol graffat, Letkol berdiri mematung, seperti baru saja melihat tiga ekor iguana keluar dari pantat salah seorang perwiranya. Aku berlari mengambil sprint satu juta langkah ke arah tengah kantor untuk bagian transfer personel
"Gilbert Cauldron! Umur 25 tahun! Kelamin Lelaki! Transfer dari resimen 22 menuju 75! tolong selesaikan cepat!" Aku berteriak di depan meja transfer. Aku benar - benar ingin mulai menembaki para pembelot pemerintahan itu!
"Kau mengapakan istrimu?" tanya personel yang sedang duduk di bagian transfer, tangan kanannya memegang kopi, kirinya memegang majalah senjata.
"Aku akan ditransfer!" Seruku setengah melengking.
"Lalu?" Dengan muka bodohnya, Aku ingin meratakan muka orang ini serata aspal hangat di hari minggu bulan juli.
"Tolong urusi pemindahanku!" Aku melengking, Suaraku memang tidak jauh dengan perempuan umur 13 tahun.
"Sudah selesai kok, Letkol graffat yang bilang, dari 2 jam yang lalu." setelah mendengar kalimat ini, aku mengambil satu juta langkah lain menuju garasi untuk mengambil motorku, aku jadi ingin meratakan mukaku sendiri.
Kunci motor kuambil dan kutancapkan langsung ke motorku, bensin hanya terisi setengah, cukup untuk pulang pergi dari Akademi - CT base - Rumah. Aku tancap gasku dan tanpa sadar, aku menjadi polisi pertama yang melanggar 3 pelanggaran lalu lintas: Menerobos lampu merah, Melaju di arah berlawanan, Melanggar batas kecepatan. Hal pertama yang lewat di kepalaku ternyata adalah "Wah, Aku akan di-skors besok"
Hari - hariku sebagai anggota dari tim kontra - teroris dalam negeri dimulai
Aku memasuki kantor utama para CT, Kantornya simpel tapi sungguh mewah, ada beberapa personel dengan body kevlar tanpa webbing kasana kemari membawa berbagai macam kertas, ada arsip, cetak biru bangunan dan senjata, anggaran peluru, data statistika balistik, dan satu yang tidak luput dari mataku, Majalah playboy yang sedang dibaca seorang personel yang menggunakan beret merah, aku langsung berpikir "Wah, Perwira bokep, Mayor lagi" sayang lamunanku tentang sang mayor dibuyarkan oleh suara imut dari meja informasi.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang wanita di meja Piket, Badannya mulus, matanya indah dengan bulu mata yang lancip keatas, di punggungnya terdapat helm dan dia melepaskan balaclavanya begitu berbicara denganku sembari merapikan rambutnya yang panjang sebahu, aku merasa sedang bermain di film india, bedanya saja, karakter utamanya yang biasanya adalah seseorang yang ganteng dan tajir, disini benyek dan pas - pasan.
"Ah iya! Aku transferan baru dari Akademi polisi militer, Aku ingin mengambil kembali arsipku dan juga menulis arsip baru untuk CT" Entah kenapa aku bisa berbicara lancar dan suaraku tidak melengking lagi, hormon memang bisa merubah perilaku seseorang, dalam hal ini, hormon 'lelaki' memanggil.
"Kau pasti Ghillie, nama yang keren, bagian administrasi ada di belakang lorong tersebut, belok ke kanan, ada lorong berisi unit Dagger dari blok 2-1 sampai 2-5, ada persimpangan di blok 2-3 belok ke sana ke ujung lorong dan kantornya ada di kanan, oke?"
Aku diam sejenak, bagaikan baru saja mendapat pencerahan ilahi, hanya saja ini pencerahan dari lampu di meja informasi yang memang remang - terang - remang - terang.
"Ah, apa? Helm-mu longgar kenapa?" Dengan otak seperti ini, bagiku menyelesaikan soal Aljabar anak SMP itu keajaiban.
Dia bermuka aneh, aku tersenyum, aku tahu betul apa yang gadis ini pikirkan "Orang idiot bisa jadi polisi ya? masuk CT pula" atau mungkin "Mukanya lebih bokep daripada mayor yang lagi duduk disana itu"
"Baiklah, aku antarkan" Dia melepaskan kevlar yang dipakainya serta tidak sengaja meng-ekspos belahan dadanya, dalam hati aku langsung berkata "Aku akan mati sebelum sempat menembak kakiku sendiri"
Aku mengikutinya kedalam markas CT lebih jauh, ada yang sedang barmain catur, menelepon, tidur - tiduran dan macam - macam, ternyata kantor CT lebih santai dibandingkan akademi, dan untuk kedua kalinya, aku melihat majalah playboy.
"Ngomong - ngomong namaku Kotomine Ayse, biasa dipanggil Keen eyes, nama aslimu siapa?" Gadis tersebut menyapa dengan suara yang cukup untuk melelehkan Kutub utara, benar - benar imut.
"Nama asliku Gilbert Cauldron, aku bukan penduduk asli" sekali lagi, aku berbicara lancar, hormon memang ajaib.
"Oh, rasanya aku pernah membaca namamu di koran, kapan ya? pokoknya sewaktu aku masih kecil" dia tersenyum padaku, aku grogi setengah mati, mukaku merah padam, lebih merah daripada apel matang yang ditetesi darah.
"Iya itu benar kok, waktu tragedi di eastern road, aku satu - satunya warga sipil yang selamat" Pikiranku langsung melayang kepada ibuku yang seharusnya juga masih hidup.
"Betul! Iya! Aku ingat waktu itu kalau tidak salah kau kehilangan... eh maaf, lupakan" gadis ini tahu kalau seluruh keluargaku dibantai dan ibuku menghilang.
"Tidak apa, itu sudah lama, dan kalaupun mereka masih hidup sekarang aku masih akan berdiri disini, ayahku ingin aku menjadi CT"
"Jadi kau kesini karena ayahmu?"
"Bukan, Bukan sama sekali"
"Lalu kalau bukan karena ayahmu, untuk apa?"
"Untuk mengakhiri perang sipil di Port ini, ibuku selalu sedih tiap kali melihat hancurnya bangunan atau baku tembak, ayahku selalu ingin membersihkan para pemberontak, sementara aku, ingin mengakhiri perang dengan cara damai, ataupun kasar"
Aku terdiam, Ayse ikut diam. kepalanya mendongak sedikit kebawah seperti sedang memikirkan sesuatu. kami sampai di bagian administrasi.
"Yah, kita sampai, kalau sudah selesai kau langsung ke ruang ganti dan ke masuklah ke dalam Training camp, semua latihan yang kaubutuh ada disana" Katanya, Raut mukanya sudah berbeda dari waktu dia pertama bertemu denganku.
"Iya siap! terima kasih ya? Kotomine" Kataku sambil tersenyum, senyum paling palsu yang bisa kubuat, kalau sudah menyangkut ayahku, aku tidak bisa tersenyum
"Ayse saja, atau Keen eyes, Jangan panggil dengan nama keluarga oke?" Dia tersenyum sambil menyodorkan tangan
"Ya baik ayse, Terima kasih, ngomong - ngomong, kenapa harus nama depan?" Kataku sambil menjabat tangannya
"Agar lebih dekat saja" Katanya sambil tersenyum, wajahku memerah lagi, diapun pergi, mungkin kembali ke meja piket, aku mulai berharap dia bagian dari unit Hunter 2-1.
Aku mengurusi administrasiku dan mengisi beberapa formulir, pengawas di ruangan itu bernama Leo Singh. Orangnya besar, kuat, dan menyandang sbuah AK-47 yang dimodifikasi dengan rail, kupikir itu Rail buatan Daniel defense atau semacamnya, juga dengan stock yang mirip dengan SA Vz.58 versi folding-skeletal stock, serta red dot Aimpoint Comp M2/QD, Garangnya. Dia menanyai berbagai hal mulai dari kependidikan militer, kependidikan akademik (Dia hanya merespon dengan kalimat Kau ini idiot untuk ukuran polisi ya? aku tahu dia akan bilang begitu), pengetahuan lapangan, senjata dan penghitungan balistik, sampai ke yang paling detil: Fobia. Inilah pembicaraan singkatku dengan si pengawas
"jadi Fobiamu adalah..." Dia diam sejenak, mukanya menunjukan raut heran, aku bisa mengerti kenapa dia heran "Kau Fobia terhadap Famili Binatang... Canine? Kau tekut dengan hewan sejenis serigala?"
"Iya, aku pernah digigit sampai celanaku lepas di depan pengawas latihanku" dia diam, aku tahu dia berpikir kalau dia baru saja mendapat personel salah transfer, aku bisa memaklumi, pengawasku saat di akademi juga berpikir aku ini turis yang ingin jadi polisi.
Yah terserah, arsipmu selesai, semua hal yang kubutuhkan sudah siap, pergilah ke Training camp dan ambil perlengkapanmu.
Ya terima kasih
Aku berjalan menuju training camp. dari sini aku sadar kalau setiap peluru yang aku tembakan akan berakibat fatal jika salah, aku akan mati jika salah mengambil langkah dan macam - macam. setelah penantian selama 20 Tahun, akhirnya, Aku, bisa mulai mengakhiri perang ini. Ini perangku, Aku tidak peduli siapa yang memulai, Aku akan menyelesaikannya!
Fin
You dont start it, but youll end it
Aku sampai di training camp, aku muncul dari bagian tengah camp ini. Sungguh hebat pikirku begitu melihat camp ini. Camp ini benar benar fleksibel untuk digunakan, Untuk melatih kemampuan CQC, Sniping, Medium-range combat, skenario combat di daerah bergunung, di daerah urban, dan macam macam. Ini bahkan lebih keren daripada killing house milik SAS.
Gudang senjata berada tak jauh dari training camp, aku mengunjunginya sebentar untuk melihat berbagai senjata yang tersedia. Aku melihat ribuan amunisi dari berbagai cartridge, dari small, intermediate, sampai anti-materiel cartridge juga ada. Mulai dari peluru balistik berindex standar SS190, sampai peluru baru yang diperuntukkan untuk PDW macam peluru 5.7 X 28 FN dan 4.6 X 30 BAE. Senjatanya juga luar biasa lengkap, ada senjata yang sering aku lihat macam M4A1 yang dipasangi Trijicon ACOG TA 4X64 dan silencer M4-2000 yang dibalut kain berocrak gurun, AKM dengan magazine clap, MP7A1 dengan Eotech 553 holosight, SG550 dengan Eotech 556 dan kamuflase gurun, P90 versi TR yang dipasangi Quickshot 6X32 dan banyak lagi. Bahkan ada senjata berlapis emas dan perak!
"Mencari sesuatu nak?" Seseorang bersuara parau memanggil dari belakang.
"Ah! Ya, eh, anu, itu, senjatanya banyak ya, anu ehehe" Aku menengok kebelakang
"Ahahaha! Kau ini tak usah kaget sampai segitunya juga, hahaha" Itu ternyata Ayse, yang berseragam lengkap dari ujung jempol kaki sampai ujung rambut. Menggunakan Kevlar ringan dengan plating keramik dan webbing MOLLE standar, di punggungnya dia menyandang Sebuah rifle bullpup yang tak lain adalah AUG A3 yang dipasangi T-Pod L grip dan Eotech 556, finishnya warna hitam kebiruan dengan campuran metalik dan parkerized finish.
"Ehehe, suaramu parau sekali tadi, Kupikir itu adalah pengawas di ruang administrasi, ternyata kebalikannya"
"Hehe, bakat yang aneh memang" Dia tersenyum jujur padaku, argh, dengan izinnya maka melelehlah saya
"ngomong ngomong kau personel di garis depan juga?" aku baru sadar bahwa ada perwira wanita non-officer, bahkan di CT perwira wanita kombatan itu kelihatan biasa.
"Iya, aku ikut berperang kok, memang kau masuk unit mana?" Aku mulai berharap dia benar benar ada di dalam unit yang aku singgahi, karena latihan kontra-teroris dibagi dalam sesi yang diiisi oleh unit berbeda tiap sesinya, kalau sekarang sesi untuk unit Hunter 2-1 dan Ayse sedang bersiap siap, maka dia adalah anggota Hunter 2-1.
"Hunter 2-1, bagian dari Hunter pleton 2 grup 1"
"Benar? Yes! Berarti kita satu grup! Pantas aku disuruh jadi Pembina, ternyata kau toh murid baruku" Eh? Murid? Dengan wanita seperti ini? Wah aku bisa benar benar mati sebelum bisa melangkah di medan latihan, dilatih dengan gadis seperti ini, sekalipun 24 jam, aku mau.
"Woah, kau instrukturku?" Aku masih tidak percaya.
"Iya! Asik kan? Baiklah karena sesi ini hanyalah sesi santai tanpa skenario, kupinjamkan senjataku dulu" dia menyodorkan rifle bullpup miliknya itu, AUG A3 memang bertekstur indah dengan rel massif memanjang dari receiver tengah ke ujung barrel serta rail dibawah kanan kiri juga , senjata yang efektif memang harus seperti ini
"Loh? Kan ada gudang senjata disini, memang tidak ada senjata standar yang diisukan untuk personel?"
"Senjata standar untuk personel memang ada, tapi percayalah padaku bahwa senjata yang mereka berikan sebagai senjata standar berasa seperti petasan tidak berguna"
"Memangnya apa yang mereka berikan sebagai isu standar?"
"Senjata buatan Negara tetangga kita, dengan gabungan direct gas-impingement dan Delayed blowback, gabungan AK-47 dan M16."
"Bukannya malah bagus ya?"
"Iya asalkan mempunyai stopping power AK dan akurasi M16, yang ini mempunyai Akurasi AK dan stopping power M16"
"Daewoo K-2? AR License-built dari FNC?"
"Tepat sekali, dan untuk pasukan Linud, mereka memberikan K-1 yang mereka bilang SMG"
"Loh? K-1 itu MAR kan? Kenapa jadi SMG?"
"Entahlah, dari dimensi mungkin SMG, tapi secara mekanisme yang mengopi langsung K1, serta penggunaan peluru 5.56 X 45, seharusnya memang menjadi Micro assault rifle"
"Jadi kapan sesi latihannya dimulai?"
"Kapan saja kau mau, kau sudah menggunakan Kevlar, sudah menggunakan helm, tinggal ambil beberapa magasen AUG beserta Pouch magasennya, aku akan menunggu mu diluar, setelah itu aku akan mengajarkan doktrin standar untuk CT"
"Siap err eh"
"Kenapa?"
"Oh, Siap! Sersan!"
"Hah? Oh, kau mencari patch pangkatku di seragam rupanya, kenapa tidak bilang?"
"ehehe, entahlah"
"Aneh kau, sudah ya?" Ayse keluar dan menutup pintu gudang senjata, aku mencari beberapa pouch magasen untuk magasen 5.56 dan mencari beberapa magasen plastik AUG.
Aku jadi teringat akan senjata yang dulu ayahku sandang sewaktu tragedi di Eastern Road, sebuah G36C dengan ACOG dan laser TA01 yang keren. Aku ingin mencari senjata itu digudang ini tapi tidak bisa menemukannya, mungkin memang bukan senjata murah karena aku tidak melihat AUG disini.
Aku berjalan keluar gudang dan menemukan Ayse yang sedang duduk sambil membersihkan barrel senjatanya.
"Jadi, sudah siap?" Tanya Ayse, sembari meniup ujung Muzzle-flash, balaclava dan helmnya dilepas
"Kapan saja kau mau mulai, aku siap!" Aku ingin segera mencoba Training camp ini
"Sebentar, kau sudah tahu peraturan emas untuk CT?"
"Ah, Saling menjaga keperca-" Aku pernah membaca majalah militer yang membahas CT di Port ini
"Bukan bodoh, 3 yang utama adalah: Bergerak atau mati, Cari perlindungan atau mati, Telitilah atau mati. Tiga hal itu karus kau tanam di kepalamu lebih sering daripada namamu sendiri Ghillie"
"Ah ya siap!"
"haha, kau ini polos ya?" Dia tersenyum padaku, aku tidak tahu sampai berapa lama aku akan tahan melihat senyumannya, benar benar melelehkan.
"Ehahaha, jadi kita mulai?"
"Ya, cukup tembak target diatas gedung itu, ada target berbentuk manusia memegang senjata yang akan menjadi targetmu dan manusia memegang bantal yang merupakan warga sipil, cukup tembak dengan cepat dan-"
*BUM!* suara ledakan datang dari sisi lain Training camp
"Apa itu tadi Ayse?" Aku kaget setengah mati mendengarnya, ledakannya sama seperti yang kudengar saat tragedi di Eastern Road.
"Entahlah, Hei, Sean, coba lihat apa itu tadi" Ayse menunjuk seorang perwira yang sedang mengisi peluru M4A1
"Baik sersan!" *Ckrak* dia mengokang M4A1 nya.
Sean berlari kecil dari tembok ke tembok, dari medan kayu yang satu ke yang lain, orang ini memang menuruti peraturan emas para CT
"Entahlah sersan, sepertinya hanya gas bocor" dia berteriak di lapangan tengah
Aku tahu betul dia salah karena ini suara peledak plastik, berarti ini adalah suara C-5
"Hei ayse, apa ada sesi latihan pemasangan bom?"
"Tidak, tidak disini, kau pikir itu bom?"
"Suaranya seperti peledak plastik"
Perwira yang tadi ada di tengah lapangan mencoba melihat lebih dalam, beberapa CT juga ikut masuk kedalam training camp.
"Sepertinya aman, aku akan- AKH!" Seseorang dari kepulan asap menghujamkan pisaunya ke leher perwira tersebut, Darahnya mengucur deras ketika pisau tersebut dicabut, Pisaunya sampai menembus lehernya.
"SEAN! Semua awas, kita kedatangan tamu tak diundang!" Seru ayse, Mengokang AUG yang lain mengikuti, Semuanya Mengokang senjata mereka masing masing.
"A Ayse, Aku tidak ada senjata!" Aku kebingungan, di tengah kerusuhan dan serangan dadakan ini, semua orang berada dalam posisi terkejut, aku harus tenang.
*Ratatatata* Rentetan tembakan mulai terdengar, disusul dengan rentetan lainnya, Peluru berdesing kesana kemari, Aku mencoba masuk kedalam Gudang senjata dan mengganti seluruh magasen plastik AUG dengan STANAG 4179, Aku mengambil M4A1 yang ada.
*Jdar!*
Ah! Sniper! Mei Ling! Coba jatuhkan sniper itu!" Seru salah seorang perwira yang menyandang AK yang sudah dimodifikasi, itu AK milik pengawas ruang administrasi tadi.
*JDUAR!* Suara kencang sebuah sniper rifle dengan peluru anti-materiel melesat cepat dan mengenai seseorang di sisi lain training camp. Orang tersebut jatuh bersimbah darah, tertembak AWSM L115
"Bagus Mei, Sekarang kau, Ghillie kan!?" Orang itu menunjukku. Aku grogi dan tak tau harus berbuat apa, aku tengah ditembaki dua orang dari arah yang berbeda.
Maaf pak! Aku sulit bergerak disini! Aku hanya bisa berlindung, mendongakkan kepala sedikit saja dan aku mati.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka, kau bisa bergerak cepat kan? Naik keatas balkon itu dan lihat darimana mereka datang!" Orang itu mulai berlari mengekspos dirinya sambil menembakkan AK-nya dengan membabi-buta. Para pemberontak mulai mengalihkan tembakan mereka ke arah pengawas tersebut.
"Sekarang! Lari! Lari kesana!" Dia menunjuk balkon kecil yang bisa dinaiki
Aku langsung sprint ke arah balkon tersebut, tidak ada yang berhasil melihatku, aku mendongak sedikit dan melihat lubang besar dimana mereka terus datang, sepertinya para pemberontak ingin mengerahkan seluruh orangnya untuk menjatuhkan CT. Aku melepas pin granat dan melemparnya jauh jauh ke arah lobang tersebut, *Bum!* Granatnya meledak dan lubangnya runtuh, menutup jalan para teroris.
Salah satu teroris melihatku dan mulai memperingati temannya, aku ditembaki hampir oleh seluruh teroris yang ada disana.
"Aaaahh! Sesorang alihkan tembakan mereka!"
*Ratatatatatatata* Rentetan panjang sebuah senjata meredakan tembakan yang ditujukan ke arahku, aku mendongak dan mulai menembaki para teroris dengan M4
*Dor! Dor! Dor dor!* Aku menembak secara tapping, aku melihat si pengawas di bawah dengan beraninya melawan para teroris, Ayse sedang menembaki penembak jitu bersama perwira yang kutahu bernama Mei Ling.
"Hyaaargh!" Teriakan tersebut terdengar dari arah tengah lapangan, si pengawas tertembak oleh sniper, ada sekitar 7 sniper disana dan semuanya menggunakan Rifle semi-otomatis.
Si pengawas roboh tapi masih bisa mengarahkan AK-nya, dia mengarah dan membunuh salah satu sniper sebelum akhirnya meninggal.
"Ayse! Ayse! Tolong jawab ayse!" Panggilku lewat radio
"Ya! Gil! Kau ada dimana!? Aku tak bisa menemukanmu! Aku dan Mei sedang ditembaki sniper dan yang lain juga mencari perlindungan! Snipernya! Tembak snipernya sebelum pasukan mereka mencapai camp kita!"
"Siap! Aku akan coba!" Aku mengarahkan cross dari scope ACOG yang terpasang di M4 ke dada salah seorang sniper *DOR!* Tidak kena!
"Sial tidak kena Ayse!"
"Jangan arahkan crossnya, gravitasi dan angin memengaruhi jalan lintas peluru menuju target, arah sedikit keatas dan sedikit kekiri!"
Aku mengarahkan M4 sesuai instruksi Ayse, dengan rentetan pendek 30 Peluru M4, semua sniper yang tadi ada disana roboh tak bernyawa.
"Bagus Gil! Bersiaplah untuk menyerbu semuanya! Maju!" Seluruh CT yang tadinya diam mulai menyerbu, aku terlalu lelah dan kaget untuk ikut, mereka menembaki seluruh teroris yang ada. Sama seperti saat tragedi di eastern road, aku tertidur, terlelap dalam mimpiku akan akhir perang ini, tentang berkumpulnya aku dengan ibuku, tentang damainya Negara ini, terlelap dalam fantasi tentang tujuan hidupku
Fin
Fortune favors the brave
"What? Stop looking at me, it's oFniR1's and powerbomb's request!" -Fachrul Rafiana, The glorious story of Zimbabwe's most handsome man (Emang ada?).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar