Rabu, 21 September 2011

Something for my little friend (Seriously, say it in Tony Montana accent)

Oh yeah, based on this: http://crimsonskystories.blogspot.com/2011/09/prologue-children.html


Crimson Skies (Crimson Sky prologue remix)

                Matanya menutup, mengusir sebutir pasir yang menyengat mata kirinya. Tangan kanannya menggosok kelopak yang basah. Hitam mata kanannya memantulkan seorang gadis kecil di padang pasir. Malam yang mencekam membuat hitam darah si gadis. Dia sekarat. Dengan bau darah yang terbang menusuk hidung Jacob Imran. Baunya begitu kental bahkan sang dokter muak dengan baunya.
               
Matanya bergeser, melirik seorang anak lelaki. Si dokter melangkah menembus pasir, mendekati kedua anak tersebut. Matanya kosong bahkan ketika bayangan bulan memantul di pasir yang dibasahi darah merah. Pandangannya terkunci ke sebongkah daging. Tangan anak lelaki itu menjulur lemas, bergetar, memegang sebuah pistol berlumur darah. Tuanya senjata itu terlihat ketika Dokter Imran berada sekitar 15 langkah dari kedua anak tersebut. Sebuah P228 dengan magasen kosong tergeletak di antara kaki si anak laki – laki. Dia jelas menangis, berlutut,  bergetar, dia bisa rubuh kapan saja.
               
Kaki kanan si dokter menginjak bongkahan yang menguluarkan suara mengerak. Dibalik kakinya adalah tangan yang hancur terinjak. Hanya lengkap sampai bahu, putus tak bertuan. Baunya begitu busuk sampai menembus balaklava setengah muka si Dokter. Di sekitarnya tergeletak daging – daging yang tampak mirip. Daging manusia, atau setidaknya, dulu manusia. Wajah para Kraken tersebut penuh dengan nafsu membunuh. Mulutnya sudah terbelah dua menunjukan taringnya, tentakelnya yang berisi tulang tajam selalu merah dengan darah.
               
Dokter Imran jatuh berlutut disamping si gadis, nafasnya teratur dan tenang, serasa tidak nyata. Dia menepuk – nepuk jaketnya dan merobek ujung bawahnya. Dia lipat setebal mungkin dan ditempelkan ke tangan kanan si gadis. Selagi tangan kanannya menahan darah, tangan kirinya menahan kepala si gadis.
               
“Tidak, tidak mungkin.” Dengan suara pelan terengah, dokter Imran melihat semua mayat di sekelilingnya. “Kalian yang melakukan ini? Membunuh makhluk – makhluk ini?” Lanjut Imran, matanya memandang si anak laki – laki. Mulutnya bergetar, setengah terbuka, Imran mengharapkan ‘Tidak’ keluar dari bibil mungil itu.
               
Anak itu hanya mengangguk.
               
Mulutnya sibuk mengucapkan kata demi kata, suaranya kecil, tapi dia jelas berbicara. Sebuah kalimat yang berulang – ulang. Kepalanya mendongak dan dia mengucapkannya semakin keras:
               
Vita brevis breviter in brevi finietur,Omnia mors perimit et nulli miseretur.
               
Dahi Imran mengernyit, dia begitu yakin itu bahasa jerman sehingga dia yakin dia tidak akan mengerti.
               
Bau darah yang menggoda tidak akan ditolak oleh para serigala, muncul dari gelapnya bukit, siluet mereka menutupi bulan. Mereka besar dan garang, dan lapar. Satu demi satu berjalan pelan mengitari Imran dan dua anak itu. 2 Serigala mengambil mayat Kraken yang sudah tercabik. Menggigit, memotong, tanpa ampun.
               
Dokter Imran memasrahkan apa yang terjadi di tangan takdir. Sebuah senapan, C2AR, bergantung di punggungnya. Tapi menggunakan senjata bukan sesuatu yang seorang dokter lakukan setiap hari.

Ad mortem festinamus peccare desistamus.

                Anak tersebut berdiri tegak di depan Dokter. P228-nya terisi dengan ajaib dan tangan kirinya memegang sebuah bayonet berdarah. Badannya tegap, dia tidak lagi bergetar, kakinya memasang ancang – ancang menyerang, dia menodongkan pistolnya dan tangannya mengikuti kemana para serigala berputar.
               
Seekor serigala menggeram dan melolong, semua serigala berhenti memutari mereka dan mengunci bola mata mereka, memandang si anak laki – laki. Satu per-satu menggeram, dengan gigi – gigi mereka yang lancip.
               
Ad mortem festinamus peccare desistamus

Kedua mata Imran menutup, tangannya mengenggam rambut gadis itu, memeluknya, menutupinya dengan tubuhnya sendiri. Kematian yang cepat adalah apa yang pantas ia dapatkan sekarang.

Intrare non poteris regnum Dei beatus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar