Minggu, 04 September 2011

The unlikely Messiah 2

1 Januari 2019, 15.34, waktu setempat
SMA Eikou no Hata, Pulau regenerasi Io Jima sektor B-3, Jepang


            Lembab, basah, dingin. Salju sudah mulai meleleh di seluruh kota, tapi hawa musim dingin masih terasa di sekolah. Cukup dingin untuk membuat semua anak mengenakan sweater, jaket, dan syal bersamaan. Titik – titik air menetes dari genteng, angin yang iseng berhambus kadang – kadang mendorong rintik – rintik air tersebut membasahi jendela. Pemanas hanyalah hiasan bersuara, tidak merubah dinginnya kelas satu derajat pun.

                Sekolah sudah membunyikan bel pulang setengah jam yang lalu. Di lorong dan kelas, anak – anak malah terlihat semakin banyak, beberapa yang berada di luar masuk lagi begitu bersentuhan dengan udara berembun. Kesan abu – abu di mengelilingi 2 anak yang masih duduk di kelas, dengan jaket tebal dan syal berwarna abu – abu gelap, salah satunya bermata sayu duduk dibelakang yang satunya dengan mata mengantuk, menulis – nulis, menggoyangkan pensil diatas secarik selebaran. Begitu sibuk dengan diri mereka sendiri, mereka  terlihat lebih berwarna dari semua orang disekelilingnya.

                “Hey, Yuu.” Celetuk si mata mengantuk. Si mata sayu menanggapi dengan melirik ke wajahnya sambil berdehum. “Kau ternyata wanita berpura – pura menjadi lelaki karena kau pernah melihat ibumu diperkosa oleh pamanmu.” Lanjutnya.

                “Eh?” Tanggap si mata sayu, tersenyum bodoh.

                “Karena telalu lama menjadi lelaki lama – lama kau menykai salah satu wanita di sekolahmu. Tapi salah satu teman sekelasmu mengetahui rahasiamu dan jatuh cinta padamu juga.” Lanjutnya tanpa menghiraukan reaksi si mata sayu.

                “Apa?” Celetuk mata sayu, sekarang menegakkan badannya dengan alis terangkat sebelah.

                Keduanya terdiam untuk sesaat. Wajah heran si mata sayu masih menempel dan dia sudah mundur bersama dengan kursinya sekitar 10 cm dari tempat dia duduk tadi.  Si mata ngantuk memutar kursinya kebelakang melihat ke si mata sayu. Dia melipat tangannya di meja si sayu dan mengistirahatkan kepalanya disana.

                “Buruk, buruk sekali.” Lanjut si sayu setelah beberapa detik.

                “Hee… Aku tidak punya ide yang lebih baik.” Jawab si ngantuk sambil menyandarkan punggungnya ke belakang.

                Si sayu menunduk ke kertasnya dan melanjutkan tulisannya. Isi pensil mekaniknya patah ketika dia akan menulis. 3 kali ditekannya bokong pensil mekanik tersebut dan dia melanjutkan tulisannya. Si mata ngantuk menunduk ke depan, memerhatikan wajah si sayu.

                “Apa?” Tanya si sayu, melirik sekilas ke si ngantuk dan kembali ke kertasnya.Tangannya yang terkepal menyangga kepalanya. Senyum datarnya menempel erat, dan miring ke atas ditarik kepalan tangannya.

                “Dingin luar biasa.” Jawabnya, si sayu memundurkan bangkunya sedikit dan bersandar sambil meluruskan kaki. Tangannya diangkat menutupi muka sambil menarik nafas dalam – dalam dilanjutkan dengan mengulet beberapa detik. Si ngantuk terlalu malas mengangkat kepalanya, memerhatikan badannya, begitu menjebak di balik jaket tebal hitam.

                “Aku juga bingung, tulis apa coba?” Balas si sayu, melempar pandangannya ke luar jendela. Anak – anak sudah mulai keluar, lapangan bisbol kosong di Januari seperti biasanya. “Mau keluar?” Tanyanya, si ngantuk mengangkat kepalanya dan membalikkan lagi kursinya ke depan, mengambil buku dan alat tulis di bawah meja. Si sayu memasukkan kertas dan pensilnya ke kantong jaket dan langsung mengambil tas punggungnya, berjalan ke meja si ngantuk dan menunggunya membereskan kertas – kertas fisikanya.

                “Mau langsung ke rumah?” Tanya si ngantuk, tas selempang coklatnya terlihat kotak penuh buku.

                “Enaknya?” Si sayu meresleting jaketnya se-dada, menutupi kemeja putihnya. Membuka mulutnya bulat dan meniupkan  nafas hangat ke tangannya, asap dari mulutnya langsung melebur hilang.

                Si ngantuk mengankat tangan kirinya, jarum panjang jam tangan-nya menunjuk di antara 6 dan 9, yang lebih pendek mendekati angka 4. Kaca jam tersebut berkilau sekilas ketika si ngantuk memutar tangannya, menunjukan jam-nya ke si sayu. Si sayu membungkuk dan memutar kepalanya, tangannya dimasukkan ke kantung jaket, menghela nafas dan berdiri tegak.

                “Yah, pulang dulu, baru kita ke toko.” Tambah si sayu, tersenyum kecil tidak simetris ke sebelah kiri.

                Si sayu membalikkan badan si ngantuk dan mendorongnya keluar kelas. Semua tadi terlihat jelas dibalik lensa binokuler. Tangan yang memegangnya diselimuti sarung tangan hitam pekat. Di belekang binokuler tersebut, seorang laki – laki tinggi dengan kacamata, dibaliknya adalah sepasang mata hijau menawan. Dimasukkanya binokuler tersebut ke tas olah raganya, sweater abu – abunya langsung berkebul ketika ditepuk – tepuk olehnya. Berdiri di lantai ke 2 paling atas dari pabrik Sprute bekas, dia tersenyum kecil tidak simetris ke kiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar