Rabu, 21 September 2011

Prologue complete - The unlikely messiah 3


1 Januari 2019, pukul 04.13, waktu setempat
Hylan Boulevard, Staten Island, New York

               
                Jari – jarinya mengunci erat di gagang pistol, nafasnya terengah – engah dan keringat menetes dari dagunya. 16 selongsong tergeletak di lantai, di samping lutut kirinya, berkilau memantulkan cahaya dari senter di pistol lain.

                Wanita itu mulai merasa tidak nyaman, belum pernah dia berdiri dan jongkok berulang – ulang begitu banyak selama 2 jam, tidak seperti selongsongnya, seluruh tubuhnya tersembunyi di balik bayangan sebuah pilar kayu. Ruangan tersebut kental akan tahun baru, botol dan kaleng bir cukup banyak tergeletak untuk ditembak. Kedua penembak di ruangan itu mengalami skak, dan tidak satupun ingin mundur, dan tidak satupun ingin mati.

                Di samping pilar itu, sebuah sofa tebal, kumuh dan lusuh. Sarah Green melirik selongsongnya, cahaya tersebut masih bersinar, sang penembak terlihat samar dibalik kilau timah. Sarah menyandarkan dirinya sedikit, diikuti 2 kilatan cahaya yang berlalu di samping kiri, melubangi pintu di depan matanya. Sarah terbelalak dan kaki kanannya terpeleset, kaki kirinya yang masih terlipat menarik pahanya sampai kram. Wanita itu meluruskan kakinya dan membiarkan ujung sepatunya disinari.

                3 Peluru menembus pintu tersebut lagi, sangat cepat sampai dia tidak ingat dia sudah menarik kaki kirinya. Nafasnya semakin berat dan keringatnya mengucur semakin banyak. Setetes air bergantung di kedua matanya, jatuh pelan melalui pipi dan bergelantungan di dagunya. Nafasnya tersendat dan air mata tersebut jatuh di atas kaleng bir diantara kakinya.

                Si penembak tersebut membatu, tidak mau kehilangan satu kesempatan saja untuk melukai Sarah. Mata kirinya terkunci dan tangannya bergetar, namun tidak mau meninggalkan tempatnya bergantung. Matanya terbelalak dan jarinya menekan pelatuk berkali – kali ke udara. Kaleng tersebut melompat – lompat selagi peluru melubangi tubuhnya.

                Dan penembak itu ambruk.

                Sarah berlutut satu kaki di hadapan cahaya putih yang membutakan. Bergetar, menjatuhkan pistolnya. Tangannya turun perlahan, tergeletak di lantai begitu dia menjatuhkan bokongnya. Matanya melotot dan berkantung, wajahnya asin dibasahi keringat dan air mata. Dia masih tersendat – sendat, suaranya kecil dan lemah seperti anak kucing.

                Suaranya tercekik ketika dia tertawa kecil. Matanya masih melihat tubuh si penembak. Darah menggenang di balik perut mayat itu. Mulutnya terbuka, darah mengalir dari pinggir bibirnya. Sarah tersenyum menyeringai, dan tawanya semakin keras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar